Langsung ke konten utama

Hujan di Bulan Juli


Kristal lembut itu jatuh,
terserap bumi yang tengah kering kehausan.
Hampir tiba tengah malam saat
jutaan kristal itu melayang begitu saja. Lalu kucium semerbak aroma tanah. Hmm.

Menggulung tubuh dengan selimut. Menikmati keanehan alam.

Hujan di bulan Juli? Bukankah harusnya belahan bumi tempatku tinggal telah memasuki musim kemarau?

Climate change, kata orang. Akibat hujan dihajar habis-habisan, kata situs lingkungan. Global warming, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang berorientasi lingkungan bilang.

Apalah itu. Tapi aku menikmati hujan yang mampir di bulan yang harusnya kemarau ini. Maaf kemarau, bukan aku tak menyukaimu. Aku juga memikirkan petani yang kebingungan, bagaimana mengurusi sawah dan menentukan panen kalau musim kini tak bisa diprediksi.

Tapi tarian hujan memang melenakan. Datangnya yang tiba-tiba, di bulan yang tak biasa, menjadi sesuatu yang istimewa.

Sembari meringkuk di atas kasur bergelung selimut, mata hampir terpejam. Tiba-tiba tarian hujan menarikku dengan mesin waktunya.

Semua keindahan, kemurahan dan kebaikanNya berkelebat di pelupuk mata. Mata pun batal terpejam.

Mengingat semua perjalanan hidup, yang tak selalu mulus dan menyenangkan. Ada saat badai itu datang dan membuat bahtera terombang-ambing. Tapi aku--beruntungnya--punya nahkoda andalan. Dia yang selalu membuatku sampai pada tujuan.

Orang-orang datang dan pergi dalam hidup. Tak semuanya membawa tawa dan ketulusan. Ada saat-saat ketika orang yang kamu anggap sahabat baikmu, ternyata mengkhianatimu. Atau orang-orang yang kamu kasihi, ternyata melukaimu. Orang yang kamu pikir bisa diandalkan, tapi mengecewakan. Ada saat ketika kebaikan dan jasamu dilupakan begitu saja.

Tapi ada satu pribadi yang selalu bisa diandalkan, yang tidak pernah mengecewakan. Janjinya seperti emas dan perak. Murni karena teruji dalam peleburan dengan bara api.

Dia membawa hidupku ke dalam suatu petualangan mendebarkan. Dan aku menikmatinya.

Dia menghadirkan orang-orang dalam perjalanan hidupku, yang layak disebut sahabat. Dia menggantikan kecewa dengan sukacita.

Badai itu tidak hilang, memang. Tapi kini aku punya dia, yang berjanji akan berada di sampingku, dan dia selalu menepatinya.

Dia berjanji, tidak akan membuatku jatuh tergeletak. Dia menepatinya.

Dia berjanji, akan menjadi kekuatan saat aku lemah. Dia juga membalut luka-luka di hati.

Sekalipun aku melalui lembah yang kelam dan berbahaya, aku tidak takut. Karena dia berdiri di depanku.

Aku tahu, dia menggenggam tanganku. Dia tidak pernah melepaskan tangannya, sampai aku menemukan daratan dengan sebingkai pelangi yang menjadi atapnya, dan langit biru menjadi kanvasnya.

Sampai aku melompat-lompat kegirangan, dan melempar tawa padanya, "Yah, aku bisa melaluinya!"

Lalu dia memelukku dengan hangat. Menepuk-nepuk bahuku. "Tuh kan, kamu bisa," bisiknya lembut.

Dia mampu memberi kesejukan dan kehangatan di tengah padang gersang.

Melebihi indahnya melodi hujan di bulan Juli...

***

"Kebaikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumahNya sepanjang masa"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jumat Agung. Suatu Ketika.

Jumat Agung. Hari yang gersang seketika mendung, dan dalam beberapa menit awan gelap yang menggantung di langit berubah menjadi butiran-butiran air yang terjun dengan kencangnya menghunjam bumi. Kedengaran seperti rentetan peluru. Jam pada ponselku menunjukkan pukul 13.30. Hujan tak berhenti hingga pukul 15.00. Aku membayangkan Golgota. Aku membayangkan Dia yang tergantung di salib.

"Allahku, ya Allahku, mengapa engkau meninggalkan aku?"



Kenapa Disebut Jatuh Cinta?

Karena ketika kamu mencintai seseorang, kamu siap jatuh dan terluka.

Karena kamu mesti menjatuhkan ego dan kesombonganmu untuk mempertahankan cinta.

Karena kamu memilih, kemana kamu menjatuhkan pilihan hatimu. Ya, cinta itu memilih.

Karena ada seseorang yang menjatuhkan diri, berdarah dan terluka, demi melihat kehidupan kita berubah.

Karena ketika kamu terjatuh, ada tangan yang menopangmu dengan penuh cinta.

Karena Ia menjatuhkan pilihanNya padamu. Meski kamu tak setia. Ia tetap setia.

Karena ia tidak menuntutmu untuk menjatuhkan harga diri kamu sebagai perempuan, tapi menjaga dan mencintaimu apa adanya.

Karena ia menjatuhkan pilihan padamu, dan kamu menjatuhkan pilihan padanya.

Karena kamu bertanggung jawab atas pilihanmu, mencintai seseorang ada konsekuensinya. Pilihlah dengan benar.

Karena cinta itu tidak buta. Ada konsekuensi jatuh dan terluka. Tak ada orang yang sempurna.

Karena cinta bisa membuatmu merana, tapi kamu bisa meminimalisir dengan terlebih dulu menentukan standarmu.

Karena kamu …