Langsung ke konten utama

Beradu dengan Waktu



Pernahkah kamu merasa waktu begitu cepat berlalu? Banyak hal yang mesti dikerjakan, tapi sehari cuma ada 24 jam. Urusan kantor, rumah, interaksi dengan teman, saudara, keluarga. Tapi waktu yang tersedia begitu sempit.

Detik berlari ke menit.

Siang lalu malam.

Lalu ganti hari.

Bulan ganti tahun.

Tahukah kamu, ternyata memang sehari tidak lagi 24 jam? Setidaknya ini yang kubaca di situs www.tempointeraktif.com


*

Gempa Cile Membuat Hari Jadi Singkat


Gempa Cile telah membuat hari makin pendek dengan membuat Bumi berputar lebih cepat, menurut para ilmuwan NASA. Tapi kita mungkin tidak menyadarinya, karena hanya dipersingkat sekitar satu milyar per detik.

Richard Gross mengungkapkan, bencana gempa ini memendekkan panjang hari sekitar 1,26 mikrodetik (satu mikrodetik adalah sepersejuta detik).

Gempa berkekuatan 8,8 skala Richter menghantam negara di Amerika Selatan pada Sabtu lalu yang menewaskan sedikitnya 795 orang dan melukai ratusan lainnya. Gempa tersebut menggeser sumbu planet sekitar delapan sentimeter.

Gross, dari Laboratorium NASA di Pasadena, California, mengatakan gempa Sumatra yang berkekuatan 9,1 gempa pada tahun 2004 juga telah memendekkan panjang hari 6,8 mikrodetik.
Dia menyatakan perubahan yang dihitung dalam hari panjang yang permanen. Namun Gross menambahkan, "Perubahan-perubahan ini sangat, sangat kecil."

Panjang hari adalah waktu yang diperlukan planet bumi untuk menyelesaikan satu rotasi atau putaran 86.400 detik atau 24 jam. Gempa bumi dapat membuat bumi berotasi lebih cepat dengan mendorong sebagian massa lebih dekat ke sumbu planet, seperti pemain es skating dapat mempercepat putarannya dengan menarik bagian lengan mereka. Sebaliknya, suatu gempa dapat memperlambat rotasi dan memperpanjang hari jika meredistribusi massa menjauh dari sumbu, Gross menambahkan.


*

Tuh kan... Pantas aja, hari jadi makin pendek. Bekerja dengan deadline, membuatku sering beradu dengan waktu. Detik, menit, itu berharga buatku. Lewat sedikit saja, sebagai jurnalis aku bakal kehilangan momen untuk menyaksikan peristiwa , merekamnya dalam ingatan. Menuangkannya dalam tulisan yang kemudian kamu baca. Jadi, aku sebenarnya tak rela jika waktu itu dikurangi.

Bayangkan, jika aku telah memperkirakan jarak dan waktu untuk pergi ke suatu tempat liputan sekian menit. Lalu waktu berkurang. Tentu perkiraanku bakal meleset. Bakal terlambat merekam peristiwa.

Atau, aku memerlukan waktu untuk tidur. Rehat sejenak dari kepenatan yang membekap. Tiba-tiba saja sudah kembali berkejaran dengan deadline. Owh! Pendeknya waktu membuatku tidak ingin melakukan hal sia-sia yang menghabiskan waktu. Kalau capek dan ada kesempatan tidur, wah tak bakal kusiakan. Atau, ada kesempatan melakukan sesuatu yang kuinginkan. Atau, pergi bersama teman.

Seorang raja yang bijak bernama Salomo (pernah dengar kan namanya?) di suatu zaman pernah bicara soal waktu. Jadi, aku memutuskan menggunakan mesin waktu untuk bertemu dengannya. Aku ingin sekedar bercengkerama mengeluarkan kegelisahan dalam pikiranku.

Kuketikkan alamat waktu yang ingin kutuju dan nama orang yang aku cari : SANG PENGKOTBAH. Entah, kenapa ia mendapat sebutan itu. Aku hanya mengikuti prosedur penggunaan mesin waktu berdasarkan buku petunjuk.


Ziiippp..... Wusss.... Aku terlempar ke masa lalu.

Aku bertemu dengannya kala ia tengah menulis. Tengah memandang bulan dan bintang.

“Boleh kutahu, apa yang sedang kau pikirkan?” tanyaku. "Aku ingin tahu tentang waktu. Aku ingin tahu, apa kata orang bijaksana tentang waktu."

Ia laki-laki paruh baya yang tampan. Senyumnya mengembang.

Vapor of vapors and futility of futilitie. Vapor of vapors and futility of futilities! All is vanity (emptiness, falsity, and vainglory). What profit does man have left from all his toil at which he toils under the sun? Is life worth living? *) Dia tak segera menjawab pertanyaanku. Malah menimbulkan pertanyaan baru.

Is life worth living? Pikirku. Ritme dari hari ke hari bisa sama. So, is life worth living?

For what has a man left from all his labor and from the striving and vexation of his heart in which he has toiled under the sun? *)

Lagi-lagi, dia mengeluarkan pertanyaan. Dan owh, itu membuatku semakin berpikir, apa semua pekerjaan ini ada gunanya? Terkadang rasa penat melanda. Merasa bosan dan ingin menyerah. Lelah menderu bersama waktu. Napasku terengah-engah. Aku tidak akan sanggup untuk berlari menjajarinya. Aku lelah mengejarnya.


Waktu yang Terhempas

Dia datang, lalu pergi. Kadang tanpa permisi. Terkadang seperti harmoni. Mengalunkan segala memori. Tanpa henti. Dia terus berdetak, berlari. Hingga aku ingin mengurungnya dalam terali besi. Ada saat kuingin waktu sejenak terhenti. Biarkan aku dan Dia bersama menikmati pagi. MenyapaNya tanpa diburu hari. Tapi dia terus lari dan lari. Waktu yang terhempas rotasi bumi. Hingga tiba ujung tahun, lagi. (Nieke Indrietta, Desember 2008)


Oh waktu, maukah kau, uhmm... berhenti sejenak saja—untukku? Kalau semua ini sebuah kesia-siaan belaka, bagaimana aku bisa menikmati hidup?

Dia tak mengindahkan kata-kataku. Dia melanjutkan kata-katanya.

TO EVERYTHING there is a season, and a time for every matter or purpose under heaven... A time to get and a time to lose, a time to keep and a time to cast away.

HE has made everything beautiful in its time. He also has planted eternity in men's hearts and minds [a divinely implanted sense of a purpose working through the ages which nothing under the sun but God alone can satisfy], yet so that men cannot find out what God has done from the beginning to the end.*)

Hm.. yah. Kata-katanya seperti angin sejuk di tengah kepenatanku. Bongkahan beban itu luruh satu demi satu.

I know that there is nothing better for them than to be glad and to get and do good as long as they live. *) Dia melanjutkan.

Aku tersenyum. Mengangguk. Ada kristal meleleh di pelupuk mataku.

Kuputuskan untuk tidak mengganggunya lagi. Aku balik ke mesin waktu. Kembali ke masaku.

I know that there is nothing better for me than to be glad and to get and do good as long as I live.

***

Jakarta, 4 Maret 2010


*) Pengkotbah (Ecclesiastes), Bible. Amplified Version.



Komentar

  1. hihi.. i like this! i like the idea of kembali ke jaman raja paling bijak itu.. keren... like this!!! dan.. kenapa ada foto kita? hihi.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jumat Agung. Suatu Ketika.

Jumat Agung. Hari yang gersang seketika mendung, dan dalam beberapa menit awan gelap yang menggantung di langit berubah menjadi butiran-butiran air yang terjun dengan kencangnya menghunjam bumi. Kedengaran seperti rentetan peluru. Jam pada ponselku menunjukkan pukul 13.30. Hujan tak berhenti hingga pukul 15.00. Aku membayangkan Golgota. Aku membayangkan Dia yang tergantung di salib.

"Allahku, ya Allahku, mengapa engkau meninggalkan aku?"



Kenapa Disebut Jatuh Cinta?

Karena ketika kamu mencintai seseorang, kamu siap jatuh dan terluka.

Karena kamu mesti menjatuhkan ego dan kesombonganmu untuk mempertahankan cinta.

Karena kamu memilih, kemana kamu menjatuhkan pilihan hatimu. Ya, cinta itu memilih.

Karena ada seseorang yang menjatuhkan diri, berdarah dan terluka, demi melihat kehidupan kita berubah.

Karena ketika kamu terjatuh, ada tangan yang menopangmu dengan penuh cinta.

Karena Ia menjatuhkan pilihanNya padamu. Meski kamu tak setia. Ia tetap setia.

Karena ia tidak menuntutmu untuk menjatuhkan harga diri kamu sebagai perempuan, tapi menjaga dan mencintaimu apa adanya.

Karena ia menjatuhkan pilihan padamu, dan kamu menjatuhkan pilihan padanya.

Karena kamu bertanggung jawab atas pilihanmu, mencintai seseorang ada konsekuensinya. Pilihlah dengan benar.

Karena cinta itu tidak buta. Ada konsekuensi jatuh dan terluka. Tak ada orang yang sempurna.

Karena cinta bisa membuatmu merana, tapi kamu bisa meminimalisir dengan terlebih dulu menentukan standarmu.

Karena kamu …