Langsung ke konten utama

Hujan: Sebuah Romansa


Hujan itu tetesan kerinduan langit yang rindu mencumbu daratan.
Kerinduannya tak bertepi kali ini.

Tiap butir hujan mengandung kata: aku rindu padamu.
Entah berapa butir yang terserap daratan hari ini.

Mungkin langit mengirim sejuta surat cinta
yang isinya berisi sejuta kata "aku rindu padamu."

Mata langit dan daratan saling beradu.
Tak bisa berpeluk, tak bisa menggenggam.
Terpisahkan bentangan cakrawala.

Kata Daratan," Aku tak bisa membalas sejuta pesan kerinduanmu.
Aku dikutuk tak punya tangan untuk menyentuh pipimu, Langit."

"Tak apa," kata Langit.
Aku cukup puas mengecupmu jutaan kali.
Tumbuhkan saja benih-benih bunga yang ada di perutmu.

Bunga-bunga yang lahir dari perutmu itu cukup untuk membuatku tersenyum.
Memandangi buah cinta kita sepanjang hari.
Dan jika kita cukup beruntung,
bagian dari diriku akan menjatuhkan diri dalam pelukmu dengan pelangi.


***
Nieke Indrietta
Sebuah pojok restoran di Radio Dalam
13 Mei 2010

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jumat Agung. Suatu Ketika.

Jumat Agung. Hari yang gersang seketika mendung, dan dalam beberapa menit awan gelap yang menggantung di langit berubah menjadi butiran-butiran air yang terjun dengan kencangnya menghunjam bumi. Kedengaran seperti rentetan peluru. Jam pada ponselku menunjukkan pukul 13.30. Hujan tak berhenti hingga pukul 15.00. Aku membayangkan Golgota. Aku membayangkan Dia yang tergantung di salib.

"Allahku, ya Allahku, mengapa engkau meninggalkan aku?"



Kenapa Disebut Jatuh Cinta?

Karena ketika kamu mencintai seseorang, kamu siap jatuh dan terluka.

Karena kamu mesti menjatuhkan ego dan kesombonganmu untuk mempertahankan cinta.

Karena kamu memilih, kemana kamu menjatuhkan pilihan hatimu. Ya, cinta itu memilih.

Karena ada seseorang yang menjatuhkan diri, berdarah dan terluka, demi melihat kehidupan kita berubah.

Karena ketika kamu terjatuh, ada tangan yang menopangmu dengan penuh cinta.

Karena Ia menjatuhkan pilihanNya padamu. Meski kamu tak setia. Ia tetap setia.

Karena ia tidak menuntutmu untuk menjatuhkan harga diri kamu sebagai perempuan, tapi menjaga dan mencintaimu apa adanya.

Karena ia menjatuhkan pilihan padamu, dan kamu menjatuhkan pilihan padanya.

Karena kamu bertanggung jawab atas pilihanmu, mencintai seseorang ada konsekuensinya. Pilihlah dengan benar.

Karena cinta itu tidak buta. Ada konsekuensi jatuh dan terluka. Tak ada orang yang sempurna.

Karena cinta bisa membuatmu merana, tapi kamu bisa meminimalisir dengan terlebih dulu menentukan standarmu.

Karena kamu …