Langsung ke konten utama

Menertawakan Versus Merayakan Keunikan





Perempuan itu jelita, sungguh. Semampai, standar supermodel, langsing, rambut berombak tergerai. Dia pemenang kontes ratu kecantikan di Indonesia. Sebut saja namanya Cinderella.

Aku membaca kisahnya di koran di meja kubikelku pagi ini. Siapa menyangka, perempuan yang pernah mewakili kontes ratu kecantikan sejagad ini, semasa kecilnya pernah menjadi korban "bullying." Omong-omong, aku belum menemukan istilah "bullying" yang tepat dalam Bahasa. Tapi, artinya kira-kira perbuatan tidak menyenangkan secara fisik dan mental oleh sekelompok orang tertentu terhadap orang lain. Korban biasanya orang yang dianggap "berbeda" dengan orang lain pada umumnya.

Jadi begitulah, supermodel ini mendapat julukan "gendut". Ia tersiksa dengan label "gendut" sampai-sampai berusaha kurus dengan cara apa saja. Hingga ia mengidap anoreksia. Seiring usia, untungnya, ia menyadari citra dirinya: ia berharga. Kalau tidak, tentu tak bakal jadi ratu kecantikan. Mungkin, kamu pernah juga mengalami hal yang sama. Atau, kamu lagi di-"bully"? Atau bisa juga, kamu justru menjadi pelaku "bully"? Kalau iya, simak ini baik-baik.



Beberapa waktu lalu aku mendengar kabar, gadis 14 tahun bunuh diri di kamar mandi sekolahnya, karena menjadi korban "bullying."

Kalau kamu korban "bully", aku berharap kamu tak bernasib sama. Jika kamu sang pelaku, aku harap kamu sadar bahwa kamu sedang menghancurkan hidup orang lain.

Buat pelakunya, kadang secara tak sadar kita melakukan "bully." Simpel saja, ketika ada orang yang berbeda dengan komunitas pada umumnya, cenderung memberi julukan pada korban. Menjahilinya karena kekurangannya. Menertawakannya dan membuat orang lain ikut menertawakan dia.

Barangkali ada orang di sekitarmu yang tanpa sadar menjadi korbanmu? Mungkin orang yang punya kebiasaan aneh, kutu buku, lemah. Pernahkah membayangkan kamu ada di posisi mereka? Paling tidak, tidakkah kamu tahu, ketika kamu mengejek dan menjahilinya, kamu sedang "membunuh" citra dirinya perlahan-lahan, sebelum akhirnya membunuhnya secara fisik (bila korban bunuh diri)?

"Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." (Matius 22: 38).

Sudah jelas, "bullying" bukan perbuatan mengasihi. Tuhan menciptakan setiap orang unik. Tak ada yang sama, sekalipun kembar identik. Makanya, ketika kamu melakukan "bully", kamu sedang membunuh dan menghancurkan "masterpiece" Tuhan.

Dan ketika kamu mengejek dan menjahilinya, itu sama seperti kamu menghina Tuhan yang menciptakannya.

Kalau kamu korban "bully", aku ingin meneguhkanmu: kamu berharga, kamu tak layak diperlakukan seperti itu. Jadi berhentilah ketakutan, tolak label yang mereka berikan. Aku tahu, ini tidak mudah. Tapi aku tidak ingin hidupmu berakhir seperti gadis 14 tahun yang mati di sekolah itu. Aku percaya kamu bisa melaluinya, seperti "Upik Abu" yang menjadi "Cinderella." (Aku membayangkan, apa ya reaksi dan komentar orang-orang yang pernah melakukan "bully" kalau melihat bagaimana Cinderella sekarang, yang cerdas, terkenal, dan dikagumi banyak orang?)

Arti dirimu tidak berdasarkan pada apa kata dan pikiran orang lain mengenai kamu. Kamu adalah ciptaan dan buatan Allah (Efesus 2: 10). Tidak ada yang sama seperti kamu. Kamu adalah "masterpiece" di mataNya.

Bicaralah pada orangtuamu, saudaramu, atau komunitasmu. Mintalah bantuan. Jangan biarkan mereka membunuh dan menghancurkan kreasi Tuhan yang indah yang ada di dalam diri kamu.

Ini janji Tuhan untukmu:
"Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau." Tuhan adalah penolongmu, jangan takut, apa yang bisa dilakukan manusia terhadap kamu? (Ibrani 13: 5)

Omong-omong, tahukah kamu, apa yang membuat Cinderella memenangkan kontes kecantikan se-nusantara itu?

Tanpa malu, Cinderella mengisahkan kisah (yang biasanya dianggap memalukan dan disembunyikan) itu kepada juri, usahanya keluar dari "bullying", mengidap anoreksia, sampai sembuh. Pengalaman itu membuat Cinderella tergerak, dia belajar psikologi dengan tujuan agar orang lain tidak mengalami hal yang sama seperti dirinya.

Untuk keberaniannya, dia mendapat mahkota ratu se-nusantara.

Bagaimana dengan kamu?

***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jumat Agung. Suatu Ketika.

Jumat Agung. Hari yang gersang seketika mendung, dan dalam beberapa menit awan gelap yang menggantung di langit berubah menjadi butiran-butiran air yang terjun dengan kencangnya menghunjam bumi. Kedengaran seperti rentetan peluru. Jam pada ponselku menunjukkan pukul 13.30. Hujan tak berhenti hingga pukul 15.00. Aku membayangkan Golgota. Aku membayangkan Dia yang tergantung di salib.

"Allahku, ya Allahku, mengapa engkau meninggalkan aku?"



Kenapa Disebut Jatuh Cinta?

Karena ketika kamu mencintai seseorang, kamu siap jatuh dan terluka.

Karena kamu mesti menjatuhkan ego dan kesombonganmu untuk mempertahankan cinta.

Karena kamu memilih, kemana kamu menjatuhkan pilihan hatimu. Ya, cinta itu memilih.

Karena ada seseorang yang menjatuhkan diri, berdarah dan terluka, demi melihat kehidupan kita berubah.

Karena ketika kamu terjatuh, ada tangan yang menopangmu dengan penuh cinta.

Karena Ia menjatuhkan pilihanNya padamu. Meski kamu tak setia. Ia tetap setia.

Karena ia tidak menuntutmu untuk menjatuhkan harga diri kamu sebagai perempuan, tapi menjaga dan mencintaimu apa adanya.

Karena ia menjatuhkan pilihan padamu, dan kamu menjatuhkan pilihan padanya.

Karena kamu bertanggung jawab atas pilihanmu, mencintai seseorang ada konsekuensinya. Pilihlah dengan benar.

Karena cinta itu tidak buta. Ada konsekuensi jatuh dan terluka. Tak ada orang yang sempurna.

Karena cinta bisa membuatmu merana, tapi kamu bisa meminimalisir dengan terlebih dulu menentukan standarmu.

Karena kamu …