Langsung ke konten utama

Bukan Kisah Cinderella




Sengaja menutup pintu, biar tidak ada yang masuk.
Tiba-tiba ada yang mengetuk,
Bingung... membukakan pintu atau membiarkannya tetap tertutup...
Sementara, rumah ini masih berantakan
Apa mungkin, membiarkan tamu masuk sementara aku masih sibuk menata yang berantakan?

-mengutip puisi karya Rina Widiastuti-





Gadis kecil manapun selalu terpukau dengan kisah semacam "Cinderella". Dongeng rakyat yang setipe itu juga kerap dituturkan kakek saya, judulnya "Bawang Putih Bawang Merah". Gadis kecil manapun, ingin menjadi tuan puteri dan bertemu dengan sang pangeran penyelamatnya.

Tapi impian sebagai gadis kecil tuan puteri ini berubah ketika saya duduk di bangku sekolah menengah pertama dan membaca komik Jepang berjudul "Rose of Versailles". Saya tak lagi terpikat pada puteri-puteri cantik yang identik dengan lemah, terbelenggu, dan menunggu untuk diselamatkan. Saya jatuh cinta pada figur Oscar, puteri yang perkasa dalam komik itu. Dia puteri bangsawan, tapi jago main pedang, dan dia dipercaya memimpin pasukan. Buat saya, Oscar ini puteri yang super keren. Dia bisa tampil berani dan bertarung. Tapi dia juga bisa tampil anggun dengan gaunnya. Lupakan Cinderella yang menanti diselamatkan. Lupakan Puteri Tidur, yang tidur dan menunggu pangeran datang mencium dan membebaskannya dari kutukan.

Lalu, waktu saya menginjakkan kaki di sekolah menengah atas, Hollywood merilis "Ever After", kisah nyeleneh Cinderella yang diperankan Drew Barrymore. Iya, nyeleneh. Cinderella tak lagi muncul sebagai figur lemah, seperti semua stereotipe dongeng puteri-puteri pada masa itu. Cinderella dalam film ini pun tak diselamatkan sang pangeran. Sang puteri menyelamatkan dirinya sendiri. Sang pangeran datang terlambat. Saya justru menyukai film ini.

Kenapa?

Bukan karena saya antipati pada kaum laki-laki.
Bukan pula karena saya miss independent.

Coba hitung, berapa waktu yang perempuan sia-siakan, ketika mereka sebenarnya bisa menggunakan waktunya menata diri dan mewujudkan impian? Saya lebih mengkaitkannya pada kesempatan-kesempatan yang ada di depan mata para perempuan yang lewat begitu saja, ketika mereka sibuk menye-menye dan terjebak pity party.

Kini. Saya masih pada prinsip yang sama. Hanya saja, saya memperoleh pencerahan yang lebih mendalam.

Inilah sebabnya saya bicara soal film jadul berjudul "Ever After". Papa di Surga, beberapa pekan lalu tiba-tiba mengingatkan saya pada film itu. "Kau ingat kan kenapa kamu suka film itu?" tanyanya.

Iya.

"Dan apa yang kamu lakukan? Menjadi puteri perkasa, atau puteri yang lemah dan menanti skenario penyelamatan yang sebenarnya bisa dilakukan sendiri?"

JLEEBB!

Dua tahun belakangan ini. Badai datang bertubi-tubi dalam kehidupan saya. Dimulai dari papa yang kecelakaan. Adik saya yang terkena tumor usus. Kemudian badai-badai lain menyusul. Dan oooh... ini hampir saja membuat saya terjebak dalam Cinderella syndrome. Saya sibuk mengadakan pesta sayang diri alias pity party: Why oh why God? Where are you God? Are You there, God? Do you exist God?


Kau ingat kan kisah sebuah rumah? Papa di surga bertanya.

Therefore whosoever heareth these sayings of mine, and doeth them, I will liken him unto a wise man, which built his house upon a rock:

And the rain descended, and the floods came, and the winds blew, and beat upon that house; and it fell not: for it was founded upon a rock.

And every one that heareth these sayings of mine, and doeth them not, shall be likened unto a foolish man, which built his house upon the sand:

And the rain descended, and the floods came, and the winds blew, and beat upon that house; and it fell: and great was the fall of it.



Pertama, kehidupan saya ibarat rumah yang terhempas lindu. Isinya berantakan. Hanya saya yang bisa menatanya kembali. Sayalah yang hafal letak masing-masing perabotnya. Sayalah yang tahu barang apa saja yang rusak, hilang, dan masih bisa digunakan.

Kedua, badai ini menyadarkan saya mengenai kondisi rumah saya. Iya. Rumah hati saya. Kekuatan fondasinya. Kekuatan dindingnya. Atapnya. Pintu. Jendela.

And the rain descended, and the floods came, and the winds blew, and beat upon that house; and it fell not: for it was founded upon a rock.
Saya bersyukur. Saya masih kokoh berdiri. Ya, saya mempertanyakan keberadaan Papa di Surga. Ya, saya marah kepadanya. Tapi, saya menemukan anugerahnya: I may stumble, but I will not fall, for my Father in Heaven upholds with his hand.

Di tengah badai ini, saya tahu, Papa di Surga sedang memperkuat fondasi rumah hati saya. Menyadarkan saya pada hal-hal dalam diri saya yang ibarat rumah--memerlukan renovasi.

Dan... Papa di Surga mengajar saya untuk menari di tengah badai.

Seperti tokoh sang puteri dalam "The SnowWhite and the Hunstman" (sekalipun saya enggak suka Kristen Stewart, tapi bolehlah karakter sang puteri di film ini). Ada ksatria. Ada pangeran. Toh, sang puteri bertarung menghadapi sang ratu jahat sendirian.  Dan dia menang.

Betul begitu kan, Pa? Shall we dance, Papa? *putar musik waltz "Shall We Dance" soundtrack film "The King and I"*



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jumat Agung. Suatu Ketika.

Jumat Agung. Hari yang gersang seketika mendung, dan dalam beberapa menit awan gelap yang menggantung di langit berubah menjadi butiran-butiran air yang terjun dengan kencangnya menghunjam bumi. Kedengaran seperti rentetan peluru. Jam pada ponselku menunjukkan pukul 13.30. Hujan tak berhenti hingga pukul 15.00. Aku membayangkan Golgota. Aku membayangkan Dia yang tergantung di salib.

"Allahku, ya Allahku, mengapa engkau meninggalkan aku?"



Kenapa Disebut Jatuh Cinta?

Karena ketika kamu mencintai seseorang, kamu siap jatuh dan terluka.

Karena kamu mesti menjatuhkan ego dan kesombonganmu untuk mempertahankan cinta.

Karena kamu memilih, kemana kamu menjatuhkan pilihan hatimu. Ya, cinta itu memilih.

Karena ada seseorang yang menjatuhkan diri, berdarah dan terluka, demi melihat kehidupan kita berubah.

Karena ketika kamu terjatuh, ada tangan yang menopangmu dengan penuh cinta.

Karena Ia menjatuhkan pilihanNya padamu. Meski kamu tak setia. Ia tetap setia.

Karena ia tidak menuntutmu untuk menjatuhkan harga diri kamu sebagai perempuan, tapi menjaga dan mencintaimu apa adanya.

Karena ia menjatuhkan pilihan padamu, dan kamu menjatuhkan pilihan padanya.

Karena kamu bertanggung jawab atas pilihanmu, mencintai seseorang ada konsekuensinya. Pilihlah dengan benar.

Karena cinta itu tidak buta. Ada konsekuensi jatuh dan terluka. Tak ada orang yang sempurna.

Karena cinta bisa membuatmu merana, tapi kamu bisa meminimalisir dengan terlebih dulu menentukan standarmu.

Karena kamu …