Langsung ke konten utama

Hanya Kontemplasi ketika Menyendiri



Orang kerap menyebut perempuan lebih bermain dengan perasaan dan cenderung subyektif. Sebagai perempuan, saya menyangkal stereotipe itu. Ya memang kebanyakan perempuan seperti itu. Tapi laki-laki yang termasuk kategori bermain perasaan dan lebih subyektif ketimbang obyektif pun tak sedikit.



Saya adalah orang yang sangat berhati-hati melontarkan sangkaan dan penilaian kepada orang lain. Apalagi jika argumennya hanya "saya merasa dia begini". Ah, kerap sekali saya bertemu dengan orang-orang yang langsung menghakimi orang lain hanya dengan "saya merasa dia begini dan begitu".

Barangkali benar jika dikatakan, semakin orang membaca buku, semakin dia belajar berpikir obyektif. Barangkali ini salah satu penyebab saya cenderung obyektif, dengan mempertimbangkan bukti dan fakta, bukannya bermain asumsi. Dan saya beruntung, sebagai wartawan, saya terlatih membedakan mana fakta dan mana asumsi. Ketika orang lain melontarkan tuduhan kepada orang lain, saya tidak mentah-mentah melahapnya. Tapi mencernanya, mana yang masuk akal dan mana yang tidak. Lalu menggali kebenaran cerita itu terlebih dulu dari pihak-pihak lain sebelum memutuskan itu sebagai kebenaran. Saya hanya percaya, kebenaran mutlak hanya terdapat di alkitab. Tapi pada orang? Tidak ada itu kebenaran yang absolut.

Dalam menulis berita, kemampuan menganalisis fakta dan bermain akurasi ini makin terasah. Hampir tiap saat, tiap hari, saya menjumpai kasus-kasus, tuduhan satu pihak ke pihak lain. Yang kalau saya tidak cermat dalam menelaahnya, bisa menyeret saya ke dalam penjara. Seorang wartawan senior pernah berkata, ketika kamu menulis, anggap saja satu kaki kamu di kantor dan satu kaki lainnya di dalam penjara. Hati-hati ketika menulis. Selalu pertimbangkan dua sudut pandang, atau cover both sides. Dari yang dituduh, maupun yang menuduh.

Ini pula yang selalu saya bawa dalam kehidupan sehari-hari saya. Saya sangat berhati-hati menyampaikan sangkaan kepada orang lain. Yang sayangnya, saya kerap tak menerima perlakuan yang sama.

Saya yakin ini bukan hal tak menyenangkan yang hanya dialami saya. Tapi juga kamu-kamu yang membaca blog saya ini. Pasti pernah mengalami satu waktu, kamu dituduh atau dilabeli sesuatu hanya karena penilaian subyektif dari orang lain. Atau, hanya berlandaskan dia suka atau tidak suka dengan kamu.

Hell, yeah. I know that feelings. Contohnya saja, saya pernah mengalami ini: ketika ada orang yang membaca salah satu tulisan di blog saya dan entah kenapa menyimpulkan bahwa saya mengalami trauma karena hubungan putus-nyambung-putus-nyambung dalam pacaran, seperti tokoh dalam cerpen itu. Lalu cerita itu tersebar ke mana-mana. Mau tahu lucunya? Karena saya tidak pernah mengalami trauma semacam itu.

Saya menulis fiksi dan nonfiksi. Yang dia anggap sebagai kebenaran adalah cerita fiksi. Saya seniman. Sama seperti seorang artis: saya tak perlu jatuh cinta untuk menulis tentang cinta, dan tak perlu patah hati untuk menulis tentang hati yang terluka. Saya seorang penulis dan wartawan, yang terlatih dalam mengungkap emosi dalam tulisan.

Membalas dendam? Itu tak pernah ada dalam benak saya.

Memprotes? Tak ada gunanya. Itu cara berpikir orang lain. Hanya dia yang bisa mengubah cara berpikirnya.

Dan apakah perlakuan tidak menyenangkan itu mengubah cara saya dalam menilai orang lain selama ini: menggunakan logika dan obyektifitas? Tidak. Saya tetap menelaah asumsi-asumsi itu sebelum meyakininya sebagai kebenaran. Bahkan kepada orang yang saya kesal kepadanya pun, saya tetap menggunakan obyektifitas. Sebab, kebenaran bisa ada di mana-mana. Sama seperti yang saya hadapi dalam pekerjaan saya sehari-hari. Bahwa kebenaran kadang ada dalam mulut seorang koruptor. Contohnya saja, orang yang ditangkap KPK, yang menyeret tersangka lain. Iya enggak?

Ada segerundel kekesalan yang, ya, harus saya akui ketika harus melalui saat-saat orang lain melabeli saya dengan penilaian-penilaian mereka yang cenderung subyektif. Tapi pada akhirnya saya memutuskan untuk tidak peduli. Selama tuduhan dan penilaian itu tidak benar, ya buat apa. Paling-paling, saya lelah dan jenuh berurusan dengan orang-orang seperti itu. Saya memutuskan lebih baik bergaul dengan orang-orang dengan pikiran yang lebih terbuka. Dan barangkali ini adalah konsekuensi dari menulis. Akan selalu ada orang-orang berkomentar, baik dan buruk.

Sembari menyendiri, saya menenangkan diri. Membuang kekesalan yang menumpuk di hati.

You, the LORD, search all hearts and examine secret motives. Jer (17:10). No need wasting time argument with people like this.

A psalm of David (Psalm 139)

O LORD, you have examined my heart
and know everything about me.
You know when I sit down or stand up.
You know my every thought when far away.
You chart the path ahead of me
and tell me where to stop and rest.
Every moment you know where I am.
You know what I am going to say
even before I say it, LORD.
You both precede and follow me.
You place your hand of blessing on my head.
Such knowledge is too wonderful for me,
too great for me to know!
I can never escape from your spirit!
I can never get away from your presence!
If I go up to heaven, you are there;
if I go down to the place of the dead, you are there.
If I ride the wings of the morning,
if I dwell by the farthest oceans,
even there your hand will guide me,
and your strength will support me.
I could ask the darkness to hide me
and the light around me to become night--
but even in darkness I cannot hide from you.
To you the night shines as bright as day.
Darkness and light are both alike to you.
You made all the delicate, inner parts of my body
and knit me together in my mother's womb.
Thank you for making me so wonderfully complex!
Your workmanship is marvelous--and how well I know it.

***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jumat Agung. Suatu Ketika.

Jumat Agung. Hari yang gersang seketika mendung, dan dalam beberapa menit awan gelap yang menggantung di langit berubah menjadi butiran-butiran air yang terjun dengan kencangnya menghunjam bumi. Kedengaran seperti rentetan peluru. Jam pada ponselku menunjukkan pukul 13.30. Hujan tak berhenti hingga pukul 15.00. Aku membayangkan Golgota. Aku membayangkan Dia yang tergantung di salib.

"Allahku, ya Allahku, mengapa engkau meninggalkan aku?"



Kenapa Disebut Jatuh Cinta?

Karena ketika kamu mencintai seseorang, kamu siap jatuh dan terluka.

Karena kamu mesti menjatuhkan ego dan kesombonganmu untuk mempertahankan cinta.

Karena kamu memilih, kemana kamu menjatuhkan pilihan hatimu. Ya, cinta itu memilih.

Karena ada seseorang yang menjatuhkan diri, berdarah dan terluka, demi melihat kehidupan kita berubah.

Karena ketika kamu terjatuh, ada tangan yang menopangmu dengan penuh cinta.

Karena Ia menjatuhkan pilihanNya padamu. Meski kamu tak setia. Ia tetap setia.

Karena ia tidak menuntutmu untuk menjatuhkan harga diri kamu sebagai perempuan, tapi menjaga dan mencintaimu apa adanya.

Karena ia menjatuhkan pilihan padamu, dan kamu menjatuhkan pilihan padanya.

Karena kamu bertanggung jawab atas pilihanmu, mencintai seseorang ada konsekuensinya. Pilihlah dengan benar.

Karena cinta itu tidak buta. Ada konsekuensi jatuh dan terluka. Tak ada orang yang sempurna.

Karena cinta bisa membuatmu merana, tapi kamu bisa meminimalisir dengan terlebih dulu menentukan standarmu.

Karena kamu …