Langsung ke konten utama

Perdebatan dengan Tuhan yang Belum Selesai




Iya. Tuhan bisa diajak berdebat. Tuhan juga bisa diajak bercanda. Tuhan bisa diajak ngobrol. Kenapa enggak? Saya sering melakukannya.

Berdebat dengan Tuhan pun bukan sekali ini saja. Dan Tuhan selalu punya seribu satu macam jawaban untuk melumpuhkan argumen-argumen saya. Tapi ada perdebatan yang belum kelar. Ini terjadi sebulan lalu.

Saya sedang berada di atas ojek, dalam perjalanan ke kantor. Ketika dia tiba-tiba berbicara.

Learn to trust people.


Ah....

Saya tak mudah mempercayai orang, memang. Ada sedikit persamaan antara saya dan Katniss Everdeen memang. Bukan tanpa alasan. Hanya saja....

Kamu butuh tim untuk mimpi itu.

Saya mendongak, menatap langit. Saya sudah memintanya bertahun-tahun yang lalu sejak menginjakkan kaki ke kota ini. Nihil.

Katnis Everdeen akhirnya bekerja sama kan, dengan sejumlah orang.

Terlanjur skeptis. Masa-masa mencari tim sudah lenyap.

...Akhirnya Katnis bisa menghancurkan musuhnya.

Semua agen-agen rahasia itu kerjanya sendirian di lapangan. Mereka juga berhasil.  Seperti film Jason Bourne.

Agen rahasia itu kerja sama dengan agen rahasia lainnya.

Oke. Saya ajak berdebat dengan materi film, Papa di Surga juga balas pakai dengan materi film. Mari coba cara lain:

Yusuf berjuang sendirian di Mesir. Dari dia menjadi budak, sampai dia menjadi perdana menteri. Nah, saya pakai materi bible sekarang.

Tuhan tertawa. Iya tertawa! Pasti menertawakan cara saya mendebatnya. Bah! Dia memang tak membantah saya. Saya tahu, bukan karena Dia kalah. Dia cuma mengalah. Saya tahu, nanti Dia pasti muncul lagi dan membawa argumennya yang lengkap.

Memang itu yang saya tunggu. Saya menantangnya untuk meyakinkan saya.

Convince me, Dad. 



***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jumat Agung. Suatu Ketika.

Jumat Agung. Hari yang gersang seketika mendung, dan dalam beberapa menit awan gelap yang menggantung di langit berubah menjadi butiran-butiran air yang terjun dengan kencangnya menghunjam bumi. Kedengaran seperti rentetan peluru. Jam pada ponselku menunjukkan pukul 13.30. Hujan tak berhenti hingga pukul 15.00. Aku membayangkan Golgota. Aku membayangkan Dia yang tergantung di salib.

"Allahku, ya Allahku, mengapa engkau meninggalkan aku?"



Kenapa Disebut Jatuh Cinta?

Karena ketika kamu mencintai seseorang, kamu siap jatuh dan terluka.

Karena kamu mesti menjatuhkan ego dan kesombonganmu untuk mempertahankan cinta.

Karena kamu memilih, kemana kamu menjatuhkan pilihan hatimu. Ya, cinta itu memilih.

Karena ada seseorang yang menjatuhkan diri, berdarah dan terluka, demi melihat kehidupan kita berubah.

Karena ketika kamu terjatuh, ada tangan yang menopangmu dengan penuh cinta.

Karena Ia menjatuhkan pilihanNya padamu. Meski kamu tak setia. Ia tetap setia.

Karena ia tidak menuntutmu untuk menjatuhkan harga diri kamu sebagai perempuan, tapi menjaga dan mencintaimu apa adanya.

Karena ia menjatuhkan pilihan padamu, dan kamu menjatuhkan pilihan padanya.

Karena kamu bertanggung jawab atas pilihanmu, mencintai seseorang ada konsekuensinya. Pilihlah dengan benar.

Karena cinta itu tidak buta. Ada konsekuensi jatuh dan terluka. Tak ada orang yang sempurna.

Karena cinta bisa membuatmu merana, tapi kamu bisa meminimalisir dengan terlebih dulu menentukan standarmu.

Karena kamu …