Langsung ke konten utama

Bersenang-senang di Surabaya Carnival




@katanieke

Hore! Saya ke Surabaya Carnival!

Sebelumnya saya hanya mendengar ceritanya dari sopir taksi, kalau saya sedang pulang ke Surabaya.  Tak pernah sempat mampir ke taman bermain itu lantaran menjadi perantau di Ibu Kota. Demi segenggam berlian, seperiuk nasi, secercah masa depan, se...   Sopir taksi selalu bercerita soal Surabaya Carnival kala kendaraan melewati lokasinya, di tengah perjalanan menuju bandara Juanda. Dari sisi kiri jalan terlihat komidi putar yang menjulang tinggi. Surabaya Carnival itu semacam Dunia Fantasi-nya Jakarta, gitu. Atau semacam Batu Night Square (BNS).
 Sejak itulah saya bercita-cita ingin ke sana, yang kata Pak Sopir Taksi selalu ramai dan harus mengantre kalau masuk karena peminatnya membludak. Apalagi kalau liburan dan akhir pekan. Untuk bermain di wahana semacam ini, biasanya warga Surabaya dan sekitarnya kudu ke Batu Night Square, Batu dan Wisata Bahari di Lamongan. Tapi akhirnya Surabaya punya taman bermain sendiri. Hore!

Cita-cita itu baru kesampaian setelah saya 'back for good' ke Surabaya. Dua hari tanggal merah pada Mei 2016, saya manfaatkan ke sana. Tanpa direncanakan sih. Gara-gara lihat foto Surabaya Carnival yang muncul di linimasa Facebook, lalu spontan saya mengajak ibu dan dua keponakan saya main-main ke sana.

Dari Surabaya kota, akses ke Surabaya Carnival cukup mudah. Cukup melalui jalan protokol menuju ke arah Waru. Tepatnya di Jalan Ahmad Yani, Gayungan, Surabaya. Kalau tak macet, sekitar 30-40 menit sudah sampai di sana.

Saya beruntung. Tiba di sana, ternyata tak harus mengantre. Hanya saja, karena ini masa emas liburan, saya mesti membayar Rp 80 ribu per orang. Biasanya sih cuma Rp 60 ribu. Tiketnya berupa kertas berbentuk gelang yang dililitkan ke tangan. Dengan tiket itu, kita bisa bebas menikmati wahana apa saja. Eh kecuali permainan-permainan tertentu yang menggunakan koin, mesti membayar lagi. Tapi cukup puas kok. Banyak banget arena bermain yang bisa kita nikmati.

Begitu melalui pintu masuk, tempat yang saya singgahi adalah Museum Galeri Suroboyo. Isinya seluruh hal-hal yang khas Surabaya, termasuk misuh-misuhnya, hihihi.
@katanieke
Bahasa pergaulan arek-arek Suroboyo.
 Ada satu ruangan yang berisi sejarah Surabaya. Ada tempat yang kita bisa lihat foto-foto perkotaan Surabaya masa dulu. Kutipan-kutipan tokoh-tokoh asal Surabaya tertempel di dinding. Sejarah para pemimpin kota Pahlawan.
@katanieke
Kita bisa melihat lebih jelas foto-foto itu melalui teropong yang disediakan di tengah.
Tak terasa sudah satu jam saya di museum. Beruntung, tak jauh dari pintu keluar museum terlihat area jajanan dan kuliner. Resto-resto menyediakan berbagai pilihan makanan dengan harga yang cukup terjangkau di kantong. Nasi goreng antara Rp 15 hingga 25 ribu, tergantung jenisnya. Pizza berukuran kecil Rp 25 ribu. Es krim goreng Rp 18 ribu. Minuman semacam teh hanya Rp 5.000. (Bandingkan sama Jakarta harganya, hahahaha). Mengisi 'bensin' dulu agar puas (kuat) bermain-main.

Wahana pertama yang saya jajal tentu saja carousel. Semacam mengenang masa kecil, paling doyan naik carousel. Padahal cuma duduk di atas kuda mainan lalu muter-muter.

Berikutnya kereta sirkus, bom bom car, bioskop 360 (derajat), museum 3 dimensi dan patung lilin, dan tentu saja komidi putar. Setelah bergerak ke atas, saya baru nyadar, bagian lantainya ternyata terbuat dari kaca jadi bisa lihat pemandangan di bawahnya. Berhubung agak takut ketinggian, saya merinding kalau melihat ke bawah. Jadi pilih lihat ke samping dan memandang gemerlap Surabaya dan seisi wahana permainan.
@katanieke
Motret dari atas komidi putar.

Ohya, di Surabaya Carnival wajib selfie di rumah selfie. Hahaha.

Wahananya super banyak. Masih ada banyak yang belum saya jajal karena kaki sudah pegel dan malam sudah larut. Cinderella harus segera pulang ke rumah sebelum kereta kencananya berubah jadi labu. Saya belum nyoba bioskop 4 D, perang laser, dll.

Kapan-kapan mesti ke sini lagi deh. Pengen tahu lebih detail Surabaya Carnival, bisa klik di sini.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jumat Agung. Suatu Ketika.

Jumat Agung. Hari yang gersang seketika mendung, dan dalam beberapa menit awan gelap yang menggantung di langit berubah menjadi butiran-butiran air yang terjun dengan kencangnya menghunjam bumi. Kedengaran seperti rentetan peluru. Jam pada ponselku menunjukkan pukul 13.30. Hujan tak berhenti hingga pukul 15.00. Aku membayangkan Golgota. Aku membayangkan Dia yang tergantung di salib.

"Allahku, ya Allahku, mengapa engkau meninggalkan aku?"



Kenapa Disebut Jatuh Cinta?

Karena ketika kamu mencintai seseorang, kamu siap jatuh dan terluka.

Karena kamu mesti menjatuhkan ego dan kesombonganmu untuk mempertahankan cinta.

Karena kamu memilih, kemana kamu menjatuhkan pilihan hatimu. Ya, cinta itu memilih.

Karena ada seseorang yang menjatuhkan diri, berdarah dan terluka, demi melihat kehidupan kita berubah.

Karena ketika kamu terjatuh, ada tangan yang menopangmu dengan penuh cinta.

Karena Ia menjatuhkan pilihanNya padamu. Meski kamu tak setia. Ia tetap setia.

Karena ia tidak menuntutmu untuk menjatuhkan harga diri kamu sebagai perempuan, tapi menjaga dan mencintaimu apa adanya.

Karena ia menjatuhkan pilihan padamu, dan kamu menjatuhkan pilihan padanya.

Karena kamu bertanggung jawab atas pilihanmu, mencintai seseorang ada konsekuensinya. Pilihlah dengan benar.

Karena cinta itu tidak buta. Ada konsekuensi jatuh dan terluka. Tak ada orang yang sempurna.

Karena cinta bisa membuatmu merana, tapi kamu bisa meminimalisir dengan terlebih dulu menentukan standarmu.

Karena kamu …