Langsung ke konten utama

Traveling ke Jakarta: Menjajal Hotel Transit Stasiun Gambir

Pernah bepergian ke Jakarta hanya dalam waktu sehari?
 
Waktu sehari memang serba nanggung. Mau cari hotel buat istirahat kok sayang uangnya karena cuma sehari dan nggak menginap. Tapi kalau nggak cari hotel nanti istirahat dan mandi di mana. Kira-kira itu yang biasanya jadi beban pikiran.
.
Hari itu saya ke Jakarta menggunakan kereta Argo Bromo Anggrek. Berangkat dari Surabaya malam dan tiba di Ibu Kota pagi. Tentu saja butuh mandi.

Jadilah saya menjajal fasilitas baru di stasiun Gambir Jakarta: Locker and Shower serta hotel transit

 Layanan Locker and Shower hanya menyediakan fasilitas kamar mandi untuk pengguna kereta. Biayanya Rp 65.000 sejam. Tempatnya terletak di lantai dua Stasiun Gambir, Jakarta. Kalau baru turun dari kereta yang letak relnya di lantai tiga, kita mesti ke lantai satu terlebih dulu. Karena tidak ada akses langsung menuju ke lokasi. Dari lantai satu, baru menggunakan tangga berbeda untuk menuju ke hotel transit Stasiun Gambir. Nggak susah kok menemukannya. Tinggal nanya petugas stasiun. Kalau dari dalam stasiun, papan keterangan penunjuk arahnya masih minim. Tapi kalau dari luar stasiun, terutama dari pintu masuk Stasiun Gambir yang berada di seberang gedung Pertamina, tangga menuju hotel transit berada di sebelah kiri. Tepatnya di ujung gedung stasiun.

Lobi hotel transit Stasiun Gambir.
Nah, Locker and Shower persis  bersebelahan dengan hotel transit.
Locker and Shower Stasiun Gambir.
Kamar mandinya sangat bersih. Bebas bau rokok dan pesing. Tiap kali ganti tamu, petugas langsung membersihkan. Setelah bersih, kita dipersilakan masuk. 
Di dalam kamar mandi ada shower dengan water heater alias air hangat, kloset duduk, hair dryer alias pengering rambut, rak untuk naruh tas, kursi, tempat sampah, dan handuk yang selalu diganti. Handuknya dikemas plastik. Jadi kita yakin ini handuk baru. Di bagian luar kamar mandi terdapat seterika pakaian. Biasanya sambil menunggu giliran mandi, tamu menyeterika pakaian yang akan dikenakannya.
Kereta saya tiba di kota yang dulunya bernama Batavia ini pukul 05.00 pagi. Saya langsung menuju ke hotel transit. Tak menyangka ternyata antrian sudah mengular.  Empat orang perempuan setengah baya berjilbab duduk di depan kasir. Saya mengambil nomor antrian. Ternyata sudah sampai nomor 19. Wow, nggak nyangka peminatnya banyak. 
Menurut petugas, terdapat empat kamar mandi yang tersedia. Saya pun mengkalkukasi kapan giliran saya tiba.

"Itu yang di dalam baru nomor empat, Kak," kata petugas.

Saya melirik sebelah kiri kasir. Ada mesin membuat minuman dengan gelas kertas. Kopi, cokelat panas, latte, teh... Akhirnya saya memutuskan menunggu di lobi hotel transit yang letaknya persis depan layanan Locker and Shower. Pukul 06.30, tibalah giliran saya. Hmmm, setidaknya lebih cepat dari waktu perhitungan. Perempuan berjilbab yang sebelumnya duduk menanti di depan kasir sudah bersalin pakaian dan berdandan.
Suasana antrian di Locker and Shower Stasiun Gambir.
Untuk fasilitas hotel transit, petugas akan memastikan tidak ada penyalahgunaan. Biasanya tamu akan diminta menunjukkan kartu identitas dan tiket kereta. Atau jika hendak menunggu bus Damri menuju bandara Soekarno Hatta, ditanya tiket pesawatnya. Ya maklum. Hotelnya memang bisa disewa sehari, atau per empat jam dan enam jam.
Saya sempat hendak menjajal istirahat di sana, namun sayang, semua kamar sudah penuh. Ada Pod Room yang modelnya seperti hotel kapsul atau bunker, tapi sayang hanya untuk tamu laki-laki. Ohya, berhubung letaknya di lantai dua, yang notabene di bawah rel yang terletak di lantai tiga, tiap beberapa menit akan terdengar suara kereta lewat.
Berikut daftar harga di hotel transit dan Pod Room:



Sampai jumpa di tulisan berikutnya 😘😁

(Nieke Indrietta)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jumat Agung. Suatu Ketika.

Jumat Agung. Hari yang gersang seketika mendung, dan dalam beberapa menit awan gelap yang menggantung di langit berubah menjadi butiran-butiran air yang terjun dengan kencangnya menghunjam bumi. Kedengaran seperti rentetan peluru. Jam pada ponselku menunjukkan pukul 13.30. Hujan tak berhenti hingga pukul 15.00. Aku membayangkan Golgota. Aku membayangkan Dia yang tergantung di salib.

"Allahku, ya Allahku, mengapa engkau meninggalkan aku?"



Kenapa Disebut Jatuh Cinta?

Karena ketika kamu mencintai seseorang, kamu siap jatuh dan terluka.

Karena kamu mesti menjatuhkan ego dan kesombonganmu untuk mempertahankan cinta.

Karena kamu memilih, kemana kamu menjatuhkan pilihan hatimu. Ya, cinta itu memilih.

Karena ada seseorang yang menjatuhkan diri, berdarah dan terluka, demi melihat kehidupan kita berubah.

Karena ketika kamu terjatuh, ada tangan yang menopangmu dengan penuh cinta.

Karena Ia menjatuhkan pilihanNya padamu. Meski kamu tak setia. Ia tetap setia.

Karena ia tidak menuntutmu untuk menjatuhkan harga diri kamu sebagai perempuan, tapi menjaga dan mencintaimu apa adanya.

Karena ia menjatuhkan pilihan padamu, dan kamu menjatuhkan pilihan padanya.

Karena kamu bertanggung jawab atas pilihanmu, mencintai seseorang ada konsekuensinya. Pilihlah dengan benar.

Karena cinta itu tidak buta. Ada konsekuensi jatuh dan terluka. Tak ada orang yang sempurna.

Karena cinta bisa membuatmu merana, tapi kamu bisa meminimalisir dengan terlebih dulu menentukan standarmu.

Karena kamu …