Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2010

Untung, Tuhan Tidak Kapitalis

Begini. Terus terang, dahi saya berkerut kala saya menonton film layar lebar 2012. Bukan karena spesial efek yang mengagumkan. Bukan karena adegan-adegan tak masuk akalnya atau cerita yang seru. Juga bukan karena saya merasa takut kiamat.

Saya yakin sebagian besar orang sudah menonton film besutan Roland Emmerich itu. Ya, itu tuh, tentang ramalan suku Maya bahwa sistem kalender berakhir pada Desember 2012. Lantas apa yang terjadi setelah itu? Spekulasi kiamat pun muncul. Mencari selamat, mereka membuat sebuah bahtera raksasa seperti zaman Nabi Nuh. Nah, ini yang membuat dahi saya berkerut.

Mau selamat dari kiamat? Anda bisa membeli tempat di bahtera ala Nabi Nuh.

Boleh saya ulangi kalimat ini?

Mau selamat dari kiamat? Anda bisa MEMBELI TEMPAT di bahtera ala Nabi Nuh.

Keselamatan menjadi komoditas perdagangan menjelang kiamat. Saya tak heran, dalam film itu, orang-orang yang bisa membeli tempat hanya orang-orang yang berduit. Konglomerat. Pejabat. Mungkin uang itu dibeli dari uang hasil man…

Bimbang

[cerpen ini pernah dimuat di Jawa Pos, Senin, 26 Mei 2003. Lalu sedikit direvisi pada Maret 2009]

"I hope you will start to learn English now."
Jogja, 15 Maret 2003

KATYA mengamati tulisan pada bagian dalam di buku tentang posmodernisme itu. Katya menulisnya tempo hari. Belum ada kesempatan untuk memberikannya pada Stefan.

Ketika dia jalan-jalan di Pasar Terban, dia menemukan buku yang menurutnya menarik bagi Stefan. Kecuali satu hal, buku ini berbahasa Inggris, Stefan tak bisa.

Kenapa dia ingin memberikannya pada Stefan? Berulang-ulang mereka bertengkar, putus lalu rujuk lagi untuk kemudian meneruskan pola yang sama. Persoalan yang sama, selain angkuh, Stefan seperti angin. Tiba-tiba datang, bersikap hangat, memberi cokelat kesukaan Katya. Di waktu lain, Stefan menghilang atau membuat janji yang tak bisa dia tepati.

Stefan juga luar biasa sombong, teman-temannya juga mengakuinya. Lebih luar biasa lagi, Katya mencintai pria dengan kesombongan luar biasa itu. Meskipun Stefan sering…

Cantik

[Cerita pendek ini pernah dimuat di Jawa Pos, 18 Juni 2002. Pemenang utama lomba menulis cerpen Deteksi Grand Prix yang diadakan Jawa Pos]

-- "Aku nggak sanggup menjadi cantik seperti yang kamu inginkan" --



Diva membaca sekali lagi formulir pemilihan putri sampul yang telah ia gunting dari majalah perempuan. Ukuran dada, perut, pinggul, dan hmm... Ia telah melakukan diet ketat selama sebulan terakhir ini, rajin memakai kosmetik pemutih dan creambath di salon secara teratur.

Formulir itu telah terisi, siap dikirim bersama foto-foto terbaiknya.

Diva beranjak dari ranjang, mematut-matut dirinya di depan cermin. Berat badannya 50 kg, tingginya 160, belum cukup ideal menurutnya. Ia harus menurunkannya lagi. Perutnya agak endut. Berarti mesti beli teh yang bisa melangsingkan perut itu.

Banyak hal yang harus dilakukannya. Pertama...

Rambut Diva hitam tebal, bergelombang. Yang disukai laki-laki adalah perempuan berambut lurus.

Warna kulitnya kuning langsat. Perempuan cantik itu berkulit pu…

Satu Percakapan dengan Senja

Kali ini ada diam
Di satu pertemuan dengan senja
Entah aku yang enggan berbicara
Atau senja menyimpan kata-kata
Aku dan senja hanya saling menatap mata
Mungkin bicara dengan bahasa jiwa

"Kau menyerah?"
Akhirnya senja bicara
Memainkan rona mukanya
Biru ungu kuning jingga

Aku menggelengkan kepala. Masih enggan berkata-kata.





Senja menatapku penuh tanda tanya
Dia tak lagi memancing bicara
Hanya memandangku dengan rona keemasan
Memelukku dengan cahaya kehangatan

Lama, aku dan senja menikmati sunyi bersama
Sampai senja menghembuskan napasnya
Sekejap langit berganti rupa
Kali ini gerimis menari di udara

"Aku tahu...," bisik gerimis sembari memetik kecapi

Dentingnya pun memainkan harmoni
Dari langit ia menari ke bumi

"You're all i want... You're all i've ever needed. You're all i want, help me know You are near..." *)

Menekuk tubuh, meletakkan kepala
Menikmati rintik air di ujung senja
Ada senyum, di lubuk hati sana


*)mengutip MWS, "Draw Me Close"


17052009

Abaikan Waktu!

Detik berdetak
Jarum jam itu bergerak
Dan aku semakin tersiksaSebentar lagi waktunya
Sebentar lagi waktunya akan tiba
Aku belum bisa berpikir apa-apa
Terperangkap dalam keruwetan peristiwaAh! Ingin kuteriak
Andai saja bisa aku lari
Hentakkan semuaAbaikan saja waktu!Jakarta, di kantorku, 14 Mei 2006

Adakah Tuhan di Diskotek?

Adakah Tuhan di diskotek?
Pertanyaan itu meluncur dari bibir seorang kawan. Dia tampaknya terheran-heran mendengar jawabanku, kala dia bertanya dimanakah aku menghabiskan malam tahun baruku. Bahkan saking herannya, dia bertanya sampai tiga kali. Sepertinya dia menganggap aku salah menghabiskan malam tahun baruku.

Kawan : Kamu malam tahun baru di mana.
Aku : Ibadah.
Kawan : Iya, maksud aku pas malam tahun baru kamu ngapain? Masa ibadah?
Aku : Iya memang ibadah.
Kawan : Jadi pas malam tahun baru kamu ibadah?
Aku : Iya, aku ibadah.
Kawan : Tahun lalu kamu tahun baru ngapain?
Aku : Ibadah.
Kawan : Kalau begitu, tahun depan kamu harus mencoba yang berbeda.
Aku : Tahun depan aku akan melakukan hal yang sama, kalau tidak ada aral melintang.
Kawan : Membosankan. Malam tahun baru ibadah? Kenapa tidak diskotek? Tuhan juga ada di diskotek.

Well, Tuhan ada di mana-mana. Tuhan pun ada di diskotek. Masalahnya adalah hatimu. Mencari Dia atau tidak. Kerinduan hati Tuhan adalah menarik anak-anaknya mende…

Antara Aku, Kamu dan Dia

"aku dan kamu"Saat itu hujan turun dengan derasnya. Dan kamu masih juga menungguku. Tiga puluh menit lalu, kukirim pesan pendek padamu. "Aku akan telat, entah sampai kapan, laporanku menumpuk."Tapi kamu membalas, "aku masih menunggu. tidak apa. aku memahamimu." Aku tiba di kafe itu tiga jam kemudian. Hujan masih turun dengan derasnya. Ini bukan pertama aku membuatmu menunggu. Dan kamu tak pernah bosan.Kamu berdiri di sudut depan kafe sambil menggenggam payung. Rambut, wajah dan pakaianmu basah kuyup. Tapi kamu tersenyum memandangku. Senyum yang menusuk hatiku. Ah, betapa, aku tidak pernah sanggup memandang wajahmu yang saat ini seperti malaikat di hadapanku.Entah telah berapa kali kuucapkan, "Aku tidak akan pernah bisa mencintaimu."Tapi kamu masih menunggu. Airmataku menitik, larut bersama air hujan. Kamu berlari menyongsong, memayungi tubuhku tanpa mempedulikan tubuhmu. Melindungiku dari percikan air langit.Aku semakin tersedu. Kamu bertanya me…

Tarian Samudera

Tirai langit menghantarkan senja
Kelam malam memeluk pantai Jawa
Angin dan ombak menarikan dansa
Dengan gemuruh rindu mencumbu bumi raya

27122009

Hujan di Bulan Juli

Kristal lembut itu jatuh,
terserap bumi yang tengah kering kehausan.
Hampir tiba tengah malam saat
jutaan kristal itu melayang begitu saja. Lalu kucium semerbak aroma tanah. Hmm.

Menggulung tubuh dengan selimut. Menikmati keanehan alam.

Hujan di bulan Juli? Bukankah harusnya belahan bumi tempatku tinggal telah memasuki musim kemarau?

Climate change, kata orang. Akibat hujan dihajar habis-habisan, kata situs lingkungan. Global warming, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang berorientasi lingkungan bilang.

Apalah itu. Tapi aku menikmati hujan yang mampir di bulan yang harusnya kemarau ini. Maaf kemarau, bukan aku tak menyukaimu. Aku juga memikirkan petani yang kebingungan, bagaimana mengurusi sawah dan menentukan panen kalau musim kini tak bisa diprediksi.

Tapi tarian hujan memang melenakan. Datangnya yang tiba-tiba, di bulan yang tak biasa, menjadi sesuatu yang istimewa.

Sembari meringkuk di atas kasur bergelung selimut, mata hampir terpejam. Tiba-tiba tarian hujan menarikku dengan mesin waktun…