Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2010

Hujan Rasa Kopi

Sebelum senja membuka mata
Ada gerimis yang lirih
Jatuh di atas kepala
Mengalir ke bibir
Hujan rasa kopi

Mungkin Tuhan lupa
menambahkan krim
sebelum mengirimnya

Tuhan, aku mau yang rasa strawberry
Ini terlalu pahit

Aku ingin mencium senja
Mendekap jingga
Membawa hangatnya udara
Memasukkannya ke rongga dada
Mengisi relung jiwa
Tapi jingga tak mampir

Butir demi butir hujan kuhirup
Baunya pun seperti ampas kopi
Pahit


Jakarta, Plasa Semanggi, Selasa, 29 Juni 2010
Nieke Indrietta

bersama dua perempuan senja: Dian Ariffahmi dan Arti Ekawati

Aku dan Bahagia

Ini Semua Tentang Menulis

Saya sangat suka menulis. Saya bersahabat dengan kata-kata. Saya berenang di dalamnya. Saya mengenakannya sebagai pakaian. Saya merangkainya jadi perhiasan.

Jika kamu suka menulis, tapi tak punya keberanian menulis, saya ingin berbagi kata-kata saya tentang menulis.

Tulisan-tulisan ini muncul di kepala saya Kamis dini hari, dan saya menumpahkannya pada akun Twitter saya. Memenuhi timeline para follower saya. Sekarang, saya mau membaginya dengan kamu.

Saya meletakkannya sesuai dengan kronologis twitter. Flash back, saya menaruh di sini justru mulai dari tweet terakhir saya. Kamu bisa membacanya dengan scroll down ke bawah dan mencari kalimat paling akhir, untuk mencari awalnya. Tapi kamu pun juga bisa membacanya dari kalimat paling atas. Tak jadi soal.


Selamat menikmati.


~~~~~


Kila sdg mendudukkan menulis sbgai "penduduk" kelas dua ktk kita sdg malas menulis, pdhl kita pny talenta&idenya:) #tipsmenulis about 22 hours ago via web

Jadi, benarkah menulis itu "penduduk" k…

Hujan : Sebuah Musikal

Akhirnya laskar air dari Langit tiba.
Berderap di atas aspal dan atap.
Terbang bersama udara.
Luruh bersama tanah.

Langit menabuh genderang.
Laskar air makin kencang menerjang.
Bumi kuyu terdiam.
Mengisi relung-relung yang gersang.

Angin menerbangkan embun kristal bening.
Butir demi butir dalam hening.
Bumi senyap dalam tarian gemerincing.
Sst... dengarkan suaranya yang seperti piano berdenting.

Jakarta, 15 Juni 2010

Hari Ketika Guntur Mati

Guntur tak sedang menggedor-gedor langit. Tak ada suara gemuruh. Siang tadi langit mencucurkan airmatanya kembali. Rintik-rintik kecil yang tajam menghunjam ubun-ubun. Angin bertiup lirih membisikkan sebuah undangan. Pengadilan.

Awan-awan berlari cepat ingin tahu apa yang terjadi. Dalam sekejap mereka sudah bergerombol menjadi satu.

Salah seorang guntur ditemukan mati tadi siang. Itu sebabnya langit menangis dan tak ada suara menyalak dari atap bumi. Tak ada yang menjadi tersangka dalam peristiwa itu. Tapi pengadilan tetap berjalan. Awan-awan gemetaran. Sebentar Raja Langit akan datang. Tentunya akan menunjuk salah satu awan menjadi korban. Supaya tetap ada pengadilan.

Lalu awan putih menyembunyikan diri di balik awan hitam.

***
6 Juni 2010

Mesin Waktu

Jika kamu menemukan mesin waktu, apa yang akan kamu lakukan? Dan, jika kamu punya kesempatan kembali ke masa lalu, ke masa mana kamu akan kembali?

Ini bukan pertanyaan dalam benak saya saja. Simak, tiga film yang bercerita tentang mesin waktu yang tengah tayang di layar lebar: “Shreek 3: Forever After”, “Prince of Persia: The Sands of Time”, dan “Hot Tube Time Machine”. Saya sudah nonton dua judul pertama. Dalam salah satu mata kuliah ilmu komunikasi, saya mengetahui film itu merepresentasikan fenomena yang sebenarnya terjadi.

Kenapa orang ingin kembali ke masa lalu?
*
Dukuh Atas, Jalan Sudirman, Jakarta. Pertengahan Mei 2010.

Saya buru-buru melompat ke dalam taksi segera setelah mobil itu menepi. “Proklamasi, Pak. Kita lewat Manggarai,” kata saya.

Lalu saya menyenderkan punggung. Sejenak memejamkan mata sambil mengingat hal-hal yang harus saya lakukan hari ini. Sampai suara “sember” sang sopir memecah keheningan.

“Di mana-mana jalan macet, Neng,” ucapnya. “Banyak demo.”

“Ohya?” Ali…