Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2011

Ada Cerita di Kereta

Perempuan berkerudung itu menghempaskan tas kecilnya di atas kursi kereta ekonomi AC jurusan Depok-Stasiun Manggarai, Jakarta. Pukul delapan pagi, penumpang berjejalan. Ule, nama perempuan itu, bersyukur masih mendapatkan tempat duduk.

Tak lama, kuda besi itu berlari menuju jantung ibukota. Inilah ritual penduduk pinggiran kota yang mengadu nasib. Sepagi apapun Ule berangkat, kereta tetap penuh. Gerbong baru sela ketika jam masuk kantor terlewati. Ule tak punya pilihan. Ia memburu waktu, ada rapat awal pekan ini di kantor.

Ule baru saja akan mengatupkan matanya. Tidurnya semalam serasa masih kurang. Kepalanya sudah terantuk-antuk ke bawah. Pelupuk matanya seperti membawa kantong berisi penuh. Nyaris ia melayang ke alam mimpi.

"Dasar anak tidak tahu diri! Tahukah kamu, aku ini susah mengandung kamu. Tapi apa balasanmu?" Suara seorang perempuan yang naik darah.

Sekejap kantuk Ule hilang. Matanya terang benderang. Ia menengok ke arah lolongan amarah berasal. Seorang perempuan seten…

Love Letters: Rimba Kata

Pagi telah menjemputku, dengan kereta impian.
Ada nada-nada yang menari-nari dalam hatiku
saat aku menghirup udara hari baru.
Nada-nada yang menuntunku padaMu.
Ada bara hangat dalam tungku hatiku.
Yang membakar jiwaku untuk selalu rindu
mencari dan mendengar suara Kekasihku.
Dan saat merindu itu menggelegak tumpah ruah,
ribuan kata dalam surat cintaNya
melompat-lompat mendesak isi kepalaku.
Kadang kata-kata itu menjelma
menjadi angin puyuh yang mengobrak-abrik isi hatiku.
Mendobrak benteng dan keangkuhanku.
Satu waktu kata-kata itu menjadi selimut hangat
yang mendekap hati yang lara dan terluka.
Menyesap perih dan membuangnya.
Saat lain, kata-kata itu menjadi tamparan
menyentakkan ketika jalan sudah goyang
dan agak menyimpang.
Kala emosi yang mengendalikan.
Ribuan kata itu bisa singgah
dan jadi apapun yang bukan kamu mau,
tapi kamu butuh.
Rimba kata yang ditulis
dengan kasih ayah pada anaknya.