Langsung ke konten utama

Jumat Agung. Suatu Ketika.

Jumat Agung. Hari yang gersang seketika mendung, dan dalam beberapa menit awan gelap yang menggantung di langit berubah menjadi butiran-butiran air yang terjun dengan kencangnya menghunjam bumi. Kedengaran seperti rentetan peluru. Jam pada ponselku menunjukkan pukul 13.30. Hujan tak berhenti hingga pukul 15.00. Aku membayangkan Golgota. Aku membayangkan Dia yang tergantung di salib.

"Allahku, ya Allahku, mengapa engkau meninggalkan aku?"





Inilah saat-saatnya. Lalu Dia mencicip cuka anggur. Sesudah itu, Ia berkata.

"Bapaku, ke dalam tanganmu kuserahkan nyawaku." Sudah selesai.


Lalu langit gelap. Lalu matahari tunduk kehilangan cahayanya. Lalu bumi bergoncang. Lalu bait Allah dan tirainya terbelah dua. 

Dan saat aku merenungkannya, sebuah pesan masuk ke ponselku. Dari seorang paman Muslim, yang mengucapkan selamat Paskah, lewat puisi karya Ulil Abshar Abdalla. Dia menyebutnya seorang cendekiawan NU. 

Lamat-lamat, kubaca puisi yang dikirimkan pamanku. Kemudian aku tersenyum. Barangkali pamanku tak mengerti siapa Dia yang tergantung di salib. Barangkali pamanku memilih ucapan selamat Paskah melalui puisi ini untuk menunjukkan sikapnya yang moderat. Barangkali barisan kata sang empunya karya menyentuh hatinya. Tapi aku tahu, tahu, dan tahu. Ini bukan satu kebetulan.... Terima kasih pula, engkau yang menciptakan puisi ini.


Puisi Paskah
Oleh : Ulil Abshar-Abdalla

Ia yang rebah,
di pangkuan perawan suci,
bangkit setelah tiga hari, melawan mati.
Ia yang lemah,
menghidupkan harapan yang nyaris punah.
Ia yang maha lemah,
jasadnya menanggungkan derita kita.
… … … …
Mereka bertengkar
tentang siapa yang mati di palang kayu.
Aku tak tertarik pada debat ahli teologi.
Darah yang mengucur itu lebih menyentuhku.
Saat aku jumawa dengan imanku,
tubuh nyeri yang tergeletak di kayu itu,
terus mengingatkanku:
Bahkan, Ia pun menderita, bersama yang nista.
… … … …
Penyakitmu, wahai kaum beriman:
Kalian mudah puas diri, pongah,
jumawa, bagai burung merak.
Kalian gemar menghakimi!
Tubuh yang mengucur darah di kayu itu,
bukan burung merak.
Ia mengajar kita, tentang cinta,
untuk mereka yang disesatkan dan dinista.
Penderitaan kadang mengajarmu
tentang iman yang rendah hati.
Huruf-huruf dalam kitab suci,
kerap membuatmu merasa paling suci.
Ya, Yesusmu adalah juga Yesusku.
Ia telah menebusku dari iman,
yang jumawa dan tinggi hati.
Ia membuatku cinta pada yang dinista!

Ulil Abshar Abdalla

Postingan populer dari blog ini

7 Hal Agar Hubungan Cintamu Nggak Serumit Meteor Garden

"Kalau minta maaf berguna, buat apa ada polisi?"

Masih ingat kutipan ini nggak? Ini ucapan Daoming Si, tokoh utama F4 dalam drama seri Meteor Garden yang legendary. Demam F4 melanda dunia sejak drama Meteor Garden versi remake 2018 tayang. Kali ini aktor ganteng Dylan Wang yang memerankan Daoming Si, ketua F4 dan Shen Yue jadi Dong Shancai. Darren Chen jadi Hua Ze Lei yang kalem-kalem menggemaskan, Connor Leong (Mei Zuo), and Caesar Wu (Xi Men).


Wisata 1 Hari di Jogja: Tempat Selfie Paling Asyik (+Itinerary)

Pernahkah kamu hanya memiliki satu hari waktu untuk bersantai di sebuah kota? Saya mencoba membuat itinerary bila hanya punya waktu satu hari di Jogja. Itinerary ini dibuat berdasarkan pengalaman saya. Jadi, saya sudah memperkirakan jarak dan waktu sehingga perjalanan ini memungkinkan untuk dilakukan.
Oke, here we go...

Traveling ke Purbalingga: Singgah di Masjid Cheng Hoo

Arsitektur Masjid Cheng Hoo yang terletak di pinggir jalan itu pasti langsung mencuri perhatian orang yang melewati jalan raya desa Selaganggeng, Mrebet, Purbalingga. Sekilas mirip kelenteng. Warna bangunannya dominan putih dan merah. Dari jauh pun saya bisa melihat bagian atapnya yang berbentuk pagoda.