Langsung ke konten utama

Aku, Saya atau Dia



Hey writers,
Ada beberapa sudut pandang untuk menuangkan ide ke dalam tulisan. Kita bisa gunakan ini dalam tulisan-tulisan kita.

1. Sudut pandang yang berpusat pada orang pertama
Menceritakan kisah dengan mempergunakan kata “aku” atau “saya”. Penulis membatasi penulisannya hanya pada apa yang diketahui tokoh “aku” atau “saya”.
Biasanya digunakan untuk kisah yang menceritakan pengalaman pribadi tokoh itu sendiri. Bisa juga digunakan dalam tulisan fiksi untuk memperkuat si tokoh dan membuat pembaca masuk ke dalam dunia tokoh melalui sudut pandangnya. Tulisan-tulisan di blog kebanyakan menggunakan teknik ini, karena biasanya blog menjadi jurnal si penulis.

2. Sudut pandang yang berkisar sekeliling orang pertama
Menceritakan sesuatu dengan mempergunakan “aku” atau “saya”, tetapi itu tidak melulu kisah si tokoh “aku” atau “saya”. Di sini, tokoh “aku” atau “saya” bukan tokoh utama. Tokoh “aku” atau “saya” menggambarkan tokoh lain di sekitarnya dari sudut pandang yang ia ketahui. Biasanya ini digunakan ketika si tokoh “aku” atau “saya” ingin memperkenalkan tokoh lain yang ada dalam kisah tersebut. Kisah ini menceritakan pengalaman tokoh lain tersebut, dengan masih melibatkan si tokoh “aku” atau “saya”.


3. Sudut pandang orang ketiga terbatas
Menceritakan sesuatu dengan sudut pandang tokoh, tanpa mempergunakan “aku” atau “saya”. Sudut pandang orang ketiga. Kisah ini menceritakan pengalaman si tokoh dari sudut pandang tokoh itu sendiri. Baru kemudian tokoh ini menceritakan tokoh-tokoh di sekitarnya dan pengalamannya bersama mereka.
4. Sudut pandang orang ketiga yang serba tahu
Menceritakan sesuatu dengan sudut pandang tokoh. Tidak mempergunakan “aku” atau “saya”. Sudut pandang orang ketiga. Di sini ada lebih dari satu tokoh utama. Bisa jadi ada beberapa tokoh. Biasanya tiga atau empat tokoh utama, yang diceritakan secara detail secara bergantian. Cara bercerita seperti ini biasanya kita temukan di novel.

Jenis sudut pandang yang paling sering kita temui adalah yang pertama. Ya, dengan menggunakan “aku” atau “saya”. Ini lebih mudah digunakan karena kita sendiri yang merasa dan mengalami. Pun, kalau sebuah kisah fiksi yang kita tulis, kita tinggal meletakkan perasaan si tokoh ke dalam diri kita.

Sudut pandang “aku” atau “saya” bisa juga digunakan untuk menuliskan kisah orang lain, semacam biografi. Nah ini yang namanya “ghost writer”. Maksudnya, kita, si penulis, mesti meletakkan diri ke dalam kehidupan orang yang kita tulis. Kita membayangkan menjadi dia, mengalami apa yang dia alami, merasakan apa yang dia rasakan. Ini seperti kita berakting di atas panggung dan memerankan kehidupan seseorang. Bedanya, akting itu kita tuangkan ke dalam tulisan.

Menulis kisah orang lain, untuk penulis pemula, akan lebih mudah kalau menggunakan sudut pandang orang ketiga. Ohya, jangan lupa gunakan mind mapping untuk membuat tulisan tidak membingungkan dan lebih sistematis.
Selamat menulis!

Postingan populer dari blog ini

7 Hal Agar Hubungan Cintamu Nggak Serumit Meteor Garden

"Kalau minta maaf berguna, buat apa ada polisi?"

Masih ingat kutipan ini nggak? Ini ucapan Daoming Si, tokoh utama F4 dalam drama seri Meteor Garden yang legendary. Demam F4 melanda dunia sejak drama Meteor Garden versi remake 2018 tayang. Kali ini aktor ganteng Dylan Wang yang memerankan Daoming Si, ketua F4 dan Shen Yue jadi Dong Shancai. Darren Chen jadi Hua Ze Lei yang kalem-kalem menggemaskan, Connor Leong (Mei Zuo), and Caesar Wu (Xi Men).


Wisata 1 Hari di Jogja: Tempat Selfie Paling Asyik (+Itinerary)

Pernahkah kamu hanya memiliki satu hari waktu untuk bersantai di sebuah kota? Saya mencoba membuat itinerary bila hanya punya waktu satu hari di Jogja. Itinerary ini dibuat berdasarkan pengalaman saya. Jadi, saya sudah memperkirakan jarak dan waktu sehingga perjalanan ini memungkinkan untuk dilakukan.
Oke, here we go...

Traveling ke Purbalingga: Singgah di Masjid Cheng Hoo

Arsitektur Masjid Cheng Hoo yang terletak di pinggir jalan itu pasti langsung mencuri perhatian orang yang melewati jalan raya desa Selaganggeng, Mrebet, Purbalingga. Sekilas mirip kelenteng. Warna bangunannya dominan putih dan merah. Dari jauh pun saya bisa melihat bagian atapnya yang berbentuk pagoda.