Langsung ke konten utama

Adakah Tuhan di Diskotek?


Adakah Tuhan di diskotek?
Pertanyaan itu meluncur dari bibir seorang kawan. Dia tampaknya terheran-heran mendengar jawabanku, kala dia bertanya dimanakah aku menghabiskan malam tahun baruku. Bahkan saking herannya, dia bertanya sampai tiga kali. Sepertinya dia menganggap aku salah menghabiskan malam tahun baruku.

Kawan : Kamu malam tahun baru di mana.
Aku : Ibadah.
Kawan : Iya, maksud aku pas malam tahun baru kamu ngapain? Masa ibadah?
Aku : Iya memang ibadah.
Kawan : Jadi pas malam tahun baru kamu ibadah?
Aku : Iya, aku ibadah.
Kawan : Tahun lalu kamu tahun baru ngapain?
Aku : Ibadah.
Kawan : Kalau begitu, tahun depan kamu harus mencoba yang berbeda.
Aku : Tahun depan aku akan melakukan hal yang sama, kalau tidak ada aral melintang.
Kawan : Membosankan. Malam tahun baru ibadah? Kenapa tidak diskotek? Tuhan juga ada di diskotek.

Well, Tuhan ada di mana-mana. Tuhan pun ada di diskotek. Masalahnya adalah hatimu. Mencari Dia atau tidak. Kerinduan hati Tuhan adalah menarik anak-anaknya mendekat padaNya. Maka dia dimana-mana.

Pertemuan pertamaku dengan Tuhan pun tak terjadi di tempat ibadah. Atau sewaktu aku ibadah. Pertemuan pertamaku justru terjadi saat aku melarikan diri dariNya. Dia memanggilku dengan lembut, hangat dan istimewa.

Umur 15 tahun itu pertama kali aku mengenal diskotek. Tahun berikutnya dengan beberapa saudara menghabiskan malam tahun baru di sana. Tapi aku tidak menemukan apa-apa. Lalu mencoba menghabiskan malam tahun baru dengan keliling kota, nonton kembang api, nongkrong... Tahun demi tahun kulewati dengan hampa. Dan sekarang, disuruh menjadikan diskotek sebagai tempat bermalam tahun baru? No, thanks.

Sejak pertemuanku denganNya. Tepatnya sejak Dia menangkapku dengan kasihNya yang sempurna, tak ada hal lain yang menyenangkan selain Dia.

Beberapa orang mungkin memilih menghabiskan malam tahun baru dengan keluarganya. Tidak ada yang salah. Tuhan pun di sana.

Orang lain mungkin memilih melakukan perjalanan ke luar kota dengan teman-temannya. "Aku ingin menghabiskan malam tahun baru dengan merenung saja," katanya.

Dan kawan lain menganggap tak ada yang istimewa dari malam pergantian tahun. "Itu hanya produk kapitalisme untuk menawarkan produk-produknya. Coba lihat, kafe, hotel, konser, kalender laku keras. Tapi sebenarnya cuma berganti hari dan angka," katanya.

Aku cuma tidak mau hidup yang cuma "hidup dari hari ke hari". Hmm... kalau demikian, betapa membosankannya hidup. Menyaksikan hal yang sama. Melakukan hal yang sama. Hidup menjadi rutinitas.

Aku cuma tak mau melewatkan malam pergantian tahun dengan hal sia-sia. OK, kalau mau pakai istilah kapitalisme. Ibarat dagang, berarti aku harus melewati malam tahun baruku dengan bernilai, dong. Jadi aku harus diuntungkan.

Kalau begitu, pertanyaan berikutnya adalah, apakah aku diuntungkan memutuskan malam tahun baruku dengan ibadah? Jawabanku adalah ya.

Semua orang tengah panik dengan krisis ekonomi global. Hampir semua pengamat ekonomi, pelaku pasar, pengusaha, pengekspor yang pernah aku wawancara, mengatakan tahun 2009 adalah tahun yang kelam. Tahun suram dimana dampak krisis yang bermula dari kasus kredit macet perumahan Amerika Serikat itu akan mulai menjalar ke belahan dunia, termasuk Indonesia. Kejatuhan bursa saham di 2008 menjadi pembuka. Disusul order ekspor yang berguguran dan harga komoditas unggulan yang anjlok. Perusahaan dan pabrik kolaps. Kemudian, gelombang PHK sudah mulai terjadi di mana-mana.

Indonesia ibarat kapal yang tengah dipermainkan gelombang samudera dan badai. Kita berada dalam kapal itu.

Bila keadaan seperti itu, apa yang kamu cari? Pegangan kan? Mengirim sandi morse, tanda SOS. Mencari pertolongan. Memanggil Tim SAR.

Yup! That's it. Kamu sudah menjawabnya dengan tepat. Saya tidak mungkin menemukan "pegangan" itu di diskotek. (Ditambah saya juga merasa tidak menemukan jawaban di sana).

Yang saya lakukan di malam pergantian tahun baru, saya mengirim "SOS" dan "sandi morse". Saya ingin mencari Dia. Saya ingin mendengar suaraNya. Saya mau berpegang erat padaNya.

Biarpun saya hanya sempat tidur satu setengah jam karena jam enam pagi hari pertama tahun baru saya sudah harus kembali bekerja. Tapi saya tahu, saya siap menghadapi tahun ini. Saya tak peduli orang bilang krisis. Saya tahu, Dia bersama saya. Saya tidak sendirian. Saya bisa melaluinya. Karena Dia bilang, "Ketika kamu jatuh, Aku tidak akan membiarkanmu tergeletak." Dia juga berjanji akan membuat segala pekerjaanku berhasil. Itu hal yang sangat menguntungkan! (dalam bahasa kapitalisme).

Keesokan harinya, aku mendengar kawan itu, menanyakan hal yang sama pada kawan yang lain. Rupanya dia masih penasaran.

Kawan : Kamu malam tahun baru dimana?
Kawan lain : Emang kenapa?
Kawan : Aku sudah tanya dia (menunjukku). Dia malam tahun baru malah ibadah.
Kawan lain : Kayaknya aku nongkrong bersama teman. Emang kamu tahun baru gimana?
Kawan : Ga ngapa-ngapain. Aku bahkan sempat ketiduran.
Kawan lain : Terus.
Kawan : Entahlah. Aku merasa hampa. Kalau kamu gimana?
Kawan lain : Biasa aja.
Kawan : Aku merasa hampa. Hampa. (dia mengulang kalimat itu berulang kali).

Jadi, adakah Tuhan di diskotek? Permasalahannya adalah hatimu. Apakah hati kita haus mencari Dia? Atau hati yang kecewa karena tak ada perubahan dalam hidup?

Hidup adalah pilihan. Kamu bisa memilih memuaskan rasa "hampa"mu, atau memuaskan dahagamu dan menemukan arti sebuah kehidupan.

***
17 Januari 2009

Komentar

  1. Iyaaa, bagus banget artikel iniii...

    BalasHapus
  2. great ... tp pas scroll down mouse ke bawah ... lho kok 17 januari 2009??!!

    BalasHapus
  3. iyah ini kejadian dua tahun lalu, pas pergantian tahun 2008 ke 2009. dan ini kejadian nyata. :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jumat Agung. Suatu Ketika.

Jumat Agung. Hari yang gersang seketika mendung, dan dalam beberapa menit awan gelap yang menggantung di langit berubah menjadi butiran-butiran air yang terjun dengan kencangnya menghunjam bumi. Kedengaran seperti rentetan peluru. Jam pada ponselku menunjukkan pukul 13.30. Hujan tak berhenti hingga pukul 15.00. Aku membayangkan Golgota. Aku membayangkan Dia yang tergantung di salib.

"Allahku, ya Allahku, mengapa engkau meninggalkan aku?"



Kenapa Disebut Jatuh Cinta?

Karena ketika kamu mencintai seseorang, kamu siap jatuh dan terluka.

Karena kamu mesti menjatuhkan ego dan kesombonganmu untuk mempertahankan cinta.

Karena kamu memilih, kemana kamu menjatuhkan pilihan hatimu. Ya, cinta itu memilih.

Karena ada seseorang yang menjatuhkan diri, berdarah dan terluka, demi melihat kehidupan kita berubah.

Karena ketika kamu terjatuh, ada tangan yang menopangmu dengan penuh cinta.

Karena Ia menjatuhkan pilihanNya padamu. Meski kamu tak setia. Ia tetap setia.

Karena ia tidak menuntutmu untuk menjatuhkan harga diri kamu sebagai perempuan, tapi menjaga dan mencintaimu apa adanya.

Karena ia menjatuhkan pilihan padamu, dan kamu menjatuhkan pilihan padanya.

Karena kamu bertanggung jawab atas pilihanmu, mencintai seseorang ada konsekuensinya. Pilihlah dengan benar.

Karena cinta itu tidak buta. Ada konsekuensi jatuh dan terluka. Tak ada orang yang sempurna.

Karena cinta bisa membuatmu merana, tapi kamu bisa meminimalisir dengan terlebih dulu menentukan standarmu.

Karena kamu …