Langsung ke konten utama

Membunuh Takut



“Kok kamu nggak cerita punya AMP Joyce Meyer?” Itu pertanyaan Ps Evelyn waktu mengantarku ke kantor, jam setengah sembilan pagi. Malam sebelumnya aku lembur di Kuningan Place.

Kantorku letaknya cuma jarak satu rumah dari toko buku Immanuel di Jalan Proklamasi. Tapi kedekatan lokasi bukan alasanku membeli AMP Bible yang mencantumkan catatan Joyce Meyer, seorang penulis dan pengajar.

Awalnya ngomong apa ya? Oiya, karena kantorku dekat dengan toko buku Immanuel, Ps Evelyn bertanya apakah dia bisa nitip dibeliin buku. Lalu aku jawab, dengan senang hati, lagian aku punya kartu diskon dan member Immanuel.

Ps Evelyn terus nanya lagi, ha? Memang ada ya kartu member dan diskon?

Ada, jawabku.

Gimana itu caranya, tanya dia lagi.

Aku menjelaskan. Nggak sengaja dapatnya. Syaratnya harus belanja Rp 500 ribu. Nah, waktu itu, aku beli AMP Joyce Meyer.

Kapan kamu belinya?

Awal bulan ini, jawabku.

Memang harganya berapa AMP Joyce Meyer? Tanya Ps Evelyn.

Aku menelan ludah. Huks. Lalu menjawab, Rp 459 ribu.

Dug.

Sudah kuduga, Ps Evelyn juga terkejut mendengar harganya.
***


Telepon selulerku berkedip. Suara seorang perempuan menyanyi dengan bahasa Perancis menjadi nada dering tanda ada pesan pendek yang masuk.

“Selamat siang mbak. Ini dari Toko Buku Immanuel. Pesanan Amplified Bible Joyce Meyer-nya sudah ada. Sudah bisa diambil.......”

Waw, pesanan yang sudah lama aku tunggu! GILA. Aku sudah memesan sejak awal 2009. Bulan-bulan pertama tahun lalu semangat mencarinya. Tapi karena nggak kunjung ada, aku jadi lupa. Makanya, aku nyaris melompat saking girangnya. NYARIS. Sampai membaca kalimat terakhir pesan pendeknya.

“.....Harganya Rp 459 ribu.”

Dug.

Hiyaaaa. Mahalnyaaaa.....!

Ini di luar perkiraanku. Tadinya aku perkirakan harganya paling mahal Rp 300 ribu. Hiks. Harganya lebih mahal dari sewa kos-ku.

Aku lagi hidup mengandalkan tabunganku. Aku sudah bayar buah sulung. Jadi bulan ini aku hidup dengan iman, Tuhan yang akan menghidupiku. Jadi aku sudah bikin rencana keuangan yang begitu ketat. Pokoknya nggak ada belanja baju, buku, dan pernak-pernik. Kecuali yang penting-penting.

Sampai pesan pendek itu datang. Aduh... gimana ya? Lalu aku mengabaikan pesan pendek itu. Melanjutkan tidurku di hari Minggu. Biar aja, pikirku. Pasti juga bakal ada orang lain yang lebih kaya dari aku yang bakal beli buku itu. Rela-in aja deh! Aku bisa nyari AMP yang lebih murah lainnya.

Pesan aku hapus.

Dua hari kemudian. Aku sudah nyaris melupakan AMP itu.

“Selamat siang mbak Nieke. Ini dari Toko Buku Immanuel. Pesanan Amplified Bible Joyce Meyer-nya sudah ada. Sudah bisa diambil. Harganya Rp 459 ribu.Kapan mau diambil?”

Ouch. Pesan pendek itu datang lagi. Huh.

Kali ini aku agak lama memandangi layar mungil Nokia 6300-ku.

Bukannya kamu memang pengen? Tiba-tiba saja ada suara.

Ummm... iya sih.

Sayang lho kalau nggak diambil. Itu Joyce Meyer punya. Nyarinya susah.

Harganya mahal. Aku lagi berhemat. Kalau belanja juga harus pake hikmat kan?

Joyce Meyer itu penulis yang bagus ya. Dia itu handal banget kalau nulis soal emosi .

Terus. Apa hubungannya?

Kamu diberkati sama buku “How to Manage Your Emotions” kan yah?

Iya. Iya bangeet...! Buku itu banyak banget berbicara buat aku.

Pasti banyak hal menarik deh, di AMP-nya. Joyce Meyer buat catatan apa ya di situ? Hmm....

Nggg.... ngg...

“Sore. Terima kasih atas pemberitahuannya. Saya akan mengambil barangnya besok.” Aku pasti SUDAH GILA saat menulis pesan pendek itu.
***

Akhirnya buku itu berpindah tangan. Barangkali aku memang sudah tidak waras. Aku berkali-kali menatap AMP Bible itu. Mengingat harganya sangat menyakitkan. Oh!
Tanganku bergerak membuka-buka halamannya. Hmm, kertasnya tipis yah. Yah, tapi nggak jelek-jelek amat sih kertasnya. Rp 459 ribu. Duh.

Sampai jemariku tidak sengaja membuka sebuah halaman. Kata-kata yang diletakkan dalam sebuah kolom berbentuk kotak : Fear God, not people.

Aku terhenyak.

Kata-kata itu terasa menghunjam. Fear God, not people. 2 Samuel 23 : 3.

Mataku segera bergerak mencari ayat yang dimaksud lalu membacanya sampai habis.

Dalam sedetik, aku larut. Hanyut.

Anyone who is going to do the will of God must have more fear of God than of man.

Lalu ada yang melompat dari pelupuk mataku.

Yah, aku selalu takut. Aku takut. Aku takut bicara. Aku takut mengungkapkan ide-ideku. Aku sebenarnya takut. Aku takut orang salah paham padaku. Aku takut orang tersinggung atau salah mengartikan kata-kataku. Jadi, aku sering memutuskan diam. Bahkan aku memilih diam, meskipun aku benar. Itu karena aku takut.

Lalu suara itu muncul. “Silence is not always golden. Setiap ide dalam pikiranmu adalah benih. Jika kamu takut bicara dan tidak mengungkapkannya. Kamu sudah mengaborsi benih yang kutaruh dalam dirimu.”

Aku terhenyak.

Sama dengan aborsi?

Iya. Sama dengan aborsi. Aborsi. Membunuh.

Mataku berkabut. Airmataku jatuh satu-satu.

Bahkan aku takut membeli buku ini. Aku takut uangku nggak cukup. Aku takut...

My God, there is none like You. Whom shall I fear? If You are for me, what can man do to me?

Lalu hangat menyelimuti hatiku.

Aku masih ingat harga buku itu Rp 459 ribu. Tapi tidak terasa lagi menyakitkan. Aku jatuh cinta padanya. Tiap hari kubaca. Tiap hari menemukan hal baru. Terisak.
Menemukan kekuatan baru.

Ah, i really love Joyce Meyer’s notes! I love my new AMP Bible.
****

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jumat Agung. Suatu Ketika.

Jumat Agung. Hari yang gersang seketika mendung, dan dalam beberapa menit awan gelap yang menggantung di langit berubah menjadi butiran-butiran air yang terjun dengan kencangnya menghunjam bumi. Kedengaran seperti rentetan peluru. Jam pada ponselku menunjukkan pukul 13.30. Hujan tak berhenti hingga pukul 15.00. Aku membayangkan Golgota. Aku membayangkan Dia yang tergantung di salib.

"Allahku, ya Allahku, mengapa engkau meninggalkan aku?"



Kenapa Disebut Jatuh Cinta?

Karena ketika kamu mencintai seseorang, kamu siap jatuh dan terluka.

Karena kamu mesti menjatuhkan ego dan kesombonganmu untuk mempertahankan cinta.

Karena kamu memilih, kemana kamu menjatuhkan pilihan hatimu. Ya, cinta itu memilih.

Karena ada seseorang yang menjatuhkan diri, berdarah dan terluka, demi melihat kehidupan kita berubah.

Karena ketika kamu terjatuh, ada tangan yang menopangmu dengan penuh cinta.

Karena Ia menjatuhkan pilihanNya padamu. Meski kamu tak setia. Ia tetap setia.

Karena ia tidak menuntutmu untuk menjatuhkan harga diri kamu sebagai perempuan, tapi menjaga dan mencintaimu apa adanya.

Karena ia menjatuhkan pilihan padamu, dan kamu menjatuhkan pilihan padanya.

Karena kamu bertanggung jawab atas pilihanmu, mencintai seseorang ada konsekuensinya. Pilihlah dengan benar.

Karena cinta itu tidak buta. Ada konsekuensi jatuh dan terluka. Tak ada orang yang sempurna.

Karena cinta bisa membuatmu merana, tapi kamu bisa meminimalisir dengan terlebih dulu menentukan standarmu.

Karena kamu …